Memori Hujan
“Nila, ayo cepat masuk!” Teriak ibuku dari dalam rumah, yang
menyadarkanku dari lamunanku sore itu. Kupandangi lagi langit yang masih kelabu
mulai menitikkan airnya sedikit demi sedikit. ‘wah, nanti pasti akan lama!’
Batinku. “Cepat masuk nak, anginnya besar!” kembali ibuku mengingatkanku untuk
masuk, kali ini suaranya agak pelan karena memang ibu sudah ada di depan intu
bersiap untuk menutupya. Tanpa basa basi lagi langsung saja aku masuk kedalam
sambil menyunggingkan senyum pada ibuku yang kini sudah agak berumur. Tapi,
beliau tetap terlihat sehat, bugar, fress, juga ceria. “Sana tidur siang dulu,”
Katanya, “Baik bu..” Jawabku. Memang benar ini masih jam setengah 1, “Sudah
sholat dhuhr kan?” Sambungnya, “Sudah” Jawabku sambil mengangguk-anggukkan
kepala. Kami memang membiasakan diri untuk sholat diawal waktu, sehingga tidak
akan ada alasan lupa dan sebagainya. Langsung ku langkahkan kakiku ke kamar
untuk tidur. Hujan yang tadinya rintik-rintik juga sudah mulai agak deras.
Walau tidak melihat langsung dari jendela, karena jendela-jendela pada di tutup
semua, tapi, suara air yang jatuh mengenai genting rumahku yang suaranya semakin keras, menandakan
semakin derasnya hujan.
Ini merupakan hujan pertama yang turun untuk mengawali musim
hujan di daerah kami. Ku baringkan tubuh ku dikasur dan mulai menerawang. Aku
kembali teringat akan memori masa laluku yang tidak bisa ku lupakan. Yang
merubah, yang mengubah hidup kami sekeluarga.
Kungat lagi memori itu kira-kira 5 tahun yang lalu, ketika hujan pertama
nan deras mengguyur desa kami.
Flasback
Desa kami memang terletak tidak jauh dari sungai besar, dan
desa kami juga rawan sekali terjadi banjir. Apalagi saat hujan deras pada musim
hujan dan sungai sudah tidak bisa menampung volume air yang semakin bertambah.
Sangking keseringannya kami jadi terbiasa, selain itu banjir yang terjadi pun
tidaklah parah. Jadi para warga tetap dapat melakukan aktivitanya
sendiri-sendiri.
Tetapi, kali ini beda. Saat itu ayah sedang ada rapat desa,
sedangkan aku dan ibuku ada dirumah, juga kakak ku yang asyik bemain
hujan-hujannan bersama teman-temannya diluar. Saat itu tidak tau mengapa ibu
begittu terlihat gelisah, mungkin itu merupakn sebah firasat. Sebentar-sebentar
ibu keluar rumah menanyakan pada kakakku apa ayah sudah pulang, tapi jawaba
dari kakakku tetap saja “Belum”. Rapat di desa kami pasti selalu lama, tidak
tau apa yang mereka bicarakan, tapi merea betah sekali berlama-lama untuk
rapat. Saamr-samar diantara derasnya suara hujan aku mendengar suara-suara
gemuruh tidak tau apa. Tiba-tiba kakakku tergesa-gesa masuk rumah dan berteriak
“Bu ayo cepat ngungsi, sungainya jebol..!!” “Ayo cepat..!!” sambungya lagi.
Kami kaget sekali, dengan tergesa-gesa ibu langsung menggandeng ku keluar rumah
bersama kakakku. Aku meliha banyak orang-orang lari dan berteriak sana sini
untuk mengingatkan yang lain, “Cepat mengungsi..!!” “Banjir bandang! Banjir
bandang!”. Dari jauh aku kembali mandengar suara gemuruh air yang sangat
banyak. Dan dari kejauhan kami melihat ayah an beberapa temannya dari pejabat
desa tergesa-gesa lari menuju kami, ayah menjelaskan pada kami supaya meggungsi
duluan besama warga lainnya. “cepat cari tempat yang aman, bawa anak-anak
kesana. Aku dan teman-taman masih harus mengevakuasi warga, cepat sana pergi”
jelasnya pada ibuku. Ibuku hanya terdiam, “Nanti aku menyusul” saut ayah lagi.
Ibu hanya mengangguk dan mengiyakannya, walau jelas tersrat diwajah ibuku suatu
kekhawatiran yang sangat. “Cepatlah menyusul”, saut ibu kemusian. Lalu ayah
mengelus rambut ku dan kakak lalu tersenyum dan pergi. Ibupun langsung menyuruh
kami lari mumpun masi ada waktu.
Kami terus berlari ke bukit dekat lereng gunung yag jaraknya
agak jauh dari desa, tempat itu merupakan tempat tinggi yang paling dekat
dengan desa. Aku sangat ketakutan waktu itu, bukan hanya aku saja sebenarnya
semua orang terliha ketakutan dan lari sekuat-kuatnya. Aku terus berdo’a dalam
hati, semoga kami seeluaga selamat dari bencana ini. Semoga ayah cepat menyusul
kami. Terlihat wajah ibu yang khawatir sambil berlari beliau menyempatkan diri
melihat kebelakang munkin ibu berharap sama denganku kakak pasti juaga. Suara
air yang gemuruh semakin terdengar, kami yang hampir sampai angsung beregas
menaki bukit. Terdengar suara air yang menerjang rumah-rumah jeritn orang-orang
yang bersaut-sautan. Aku ngeri sekali mendengarnya, derasnya hujan yang masih
bertahan menemani gemuruh suara langkah orang-orang yang menaiki bukit. Alhamdulillah
ya Allah, kami selamat dari maut yang akan menerjag kami.alhamdulillah ya
Allah, hanya itu yang bisa kukatakan. Akupun menangis sesenggukan. Semua orang
yang selamat juga terlihat mengucapkan syukurnya kepada Yang Maha Kuasa. Dari
situ aku bisa melihat rumah-rumah yang ada di desa sudah tidak terlihat, hanya
gentig-gentingnya saja yang masih bisa terlihat. Masya Allah itu seperti bukan
desaku.
Disitu kami langsung mencari ayah berharap beliau juga
selamat. Kami mencari-cari diantara para penduduk yang selamat, tapi wajah ayah
belum juga tampak, aku makun pesimis, raut kekhawatiran juga terlihat di wajah
ibu dan kakakku. Sampai beberapa jam kemudian tim SAR pun datang, mereka
menari-cari ke desa yang sudah tak terlihat seperti desa lagi, kalau-kalau
masih ada orang-orang yang yang selamat. Berjam-jam kami mencari ayah yang tak
kunjung terlihat juga.
“bu, ebih baik kita juga mencari di seelah sana” kata kakak
ku sambil nenunjuk ke arah koran yang tidak bisa selamat. Dengan wajah tegang,
akhirnya kami mulai mencari wajah awah diantara orang-orang yang meninggal itu.
Aku masih beharap semoga ayah tiada di antara merek. Tapi mungkin Allah
nerkeinginan lain. Diantara korban-korban itu, kami dapat mengenali satu wajah
yang sangat familiar bagi kami. Ayah. Bagai disambar petir, kami langsung
berhamburan menuju jasad ayah yang sudah tak bernyawa. Tangis kami pun tak
dapat terbendungkan lagi. Kami memanggil-manggil dan menggoyang-goyangkan
badannya berharap ayah akan bangun. Aku tak menyangka senyum yang beliau
sunggingkan sebelum pergi meninggalkan kami merupakan senyumannya yang
terakhir...
Flasback end
Tak terasa air mata mengalir dipipku setiap aku ingat memiri
itu. Ejak saat itu hidup kami sekeluarga telah berubah. Kami harus bisa
menerima hidup tanpa disertai kehadiran ayah. Kehadirannya yang membuat
keluarga lengkap, hangat, dan ceria. Mungkin dari balik kejadian itu terdapat
hikmah tersendiri yang bisa Allah berikan pada kami. Mengingatkan agar oarang –
orang selalu ingat kepada Allah, juga ingat jika manusia itu tidak akan kekal
hidup didunia ini. Kupandangi lagi langit-langit kamark nan putih, suara hujan
yang menderu-deru di atas genting juga pepohonan menjadi pengantar tidurku
siang itu.
*END*
0 komentar:
Posting Komentar