Senin, 28 Januari 2013

cerpen 1


Memori Hujan


“Nila, ayo cepat masuk!” Teriak ibuku dari dalam rumah, yang menyadarkanku dari lamunanku sore itu. Kupandangi lagi langit yang masih kelabu mulai menitikkan airnya sedikit demi sedikit. ‘wah, nanti pasti akan lama!’ Batinku. “Cepat masuk nak, anginnya besar!” kembali ibuku mengingatkanku untuk masuk, kali ini suaranya agak pelan karena memang ibu sudah ada di depan intu bersiap untuk menutupya. Tanpa basa basi lagi langsung saja aku masuk kedalam sambil menyunggingkan senyum pada ibuku yang kini sudah agak berumur. Tapi, beliau tetap terlihat sehat, bugar, fress, juga ceria. “Sana tidur siang dulu,” Katanya, “Baik bu..” Jawabku. Memang benar ini masih jam setengah 1, “Sudah sholat dhuhr kan?” Sambungnya, “Sudah” Jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala. Kami memang membiasakan diri untuk sholat diawal waktu, sehingga tidak akan ada alasan lupa dan sebagainya. Langsung ku langkahkan kakiku ke kamar untuk tidur. Hujan yang tadinya rintik-rintik juga sudah mulai agak deras. Walau tidak melihat langsung dari jendela, karena jendela-jendela pada di tutup semua, tapi, suara air yang jatuh mengenai genting rumahku  yang suaranya semakin keras, menandakan semakin derasnya hujan.
Ini merupakan hujan pertama yang turun untuk mengawali musim hujan di daerah kami. Ku baringkan tubuh ku dikasur dan mulai menerawang. Aku kembali teringat akan memori masa laluku yang tidak bisa ku lupakan. Yang merubah, yang mengubah hidup kami sekeluarga.  Kungat lagi memori itu kira-kira 5 tahun yang lalu, ketika hujan pertama nan deras mengguyur desa kami.
Flasback
Desa kami memang terletak tidak jauh dari sungai besar, dan desa kami juga rawan sekali terjadi banjir. Apalagi saat hujan deras pada musim hujan dan sungai sudah tidak bisa menampung volume air yang semakin bertambah. Sangking keseringannya kami jadi terbiasa, selain itu banjir yang terjadi pun tidaklah parah. Jadi para warga tetap dapat melakukan aktivitanya sendiri-sendiri.
Tetapi, kali ini beda. Saat itu ayah sedang ada rapat desa, sedangkan aku dan ibuku ada dirumah, juga kakak ku yang asyik bemain hujan-hujannan bersama teman-temannya diluar. Saat itu tidak tau mengapa ibu begittu terlihat gelisah, mungkin itu merupakn sebah firasat. Sebentar-sebentar ibu keluar rumah menanyakan pada kakakku apa ayah sudah pulang, tapi jawaba dari kakakku tetap saja “Belum”. Rapat di desa kami pasti selalu lama, tidak tau apa yang mereka bicarakan, tapi merea betah sekali berlama-lama untuk rapat. Saamr-samar diantara derasnya suara hujan aku mendengar suara-suara gemuruh tidak tau apa. Tiba-tiba kakakku tergesa-gesa masuk rumah dan berteriak “Bu ayo cepat ngungsi, sungainya jebol..!!” “Ayo cepat..!!” sambungya lagi. Kami kaget sekali, dengan tergesa-gesa ibu langsung menggandeng ku keluar rumah bersama kakakku. Aku meliha banyak orang-orang lari dan berteriak sana sini untuk mengingatkan yang lain, “Cepat mengungsi..!!” “Banjir bandang! Banjir bandang!”. Dari jauh aku kembali mandengar suara gemuruh air yang sangat banyak. Dan dari kejauhan kami melihat ayah an beberapa temannya dari pejabat desa tergesa-gesa lari menuju kami, ayah menjelaskan pada kami supaya meggungsi duluan besama warga lainnya. “cepat cari tempat yang aman, bawa anak-anak kesana. Aku dan teman-taman masih harus mengevakuasi warga, cepat sana pergi” jelasnya pada ibuku. Ibuku hanya terdiam, “Nanti aku menyusul” saut ayah lagi. Ibu hanya mengangguk dan mengiyakannya, walau jelas tersrat diwajah ibuku suatu kekhawatiran yang sangat. “Cepatlah menyusul”, saut ibu kemusian. Lalu ayah mengelus rambut ku dan kakak lalu tersenyum dan pergi. Ibupun langsung menyuruh kami lari mumpun masi ada waktu.
Kami terus berlari ke bukit dekat lereng gunung yag jaraknya agak jauh dari desa, tempat itu merupakan tempat tinggi yang paling dekat dengan desa. Aku sangat ketakutan waktu itu, bukan hanya aku saja sebenarnya semua orang terliha ketakutan dan lari sekuat-kuatnya. Aku terus berdo’a dalam hati, semoga kami seeluaga selamat dari bencana ini. Semoga ayah cepat menyusul kami. Terlihat wajah ibu yang khawatir sambil berlari beliau menyempatkan diri melihat kebelakang munkin ibu berharap sama denganku kakak pasti juaga. Suara air yang gemuruh semakin terdengar, kami yang hampir sampai angsung beregas menaki bukit. Terdengar suara air yang menerjang rumah-rumah jeritn orang-orang yang bersaut-sautan. Aku ngeri sekali mendengarnya, derasnya hujan yang masih bertahan menemani gemuruh suara langkah orang-orang yang menaiki bukit. Alhamdulillah ya Allah, kami selamat dari maut yang akan menerjag kami.alhamdulillah ya Allah, hanya itu yang bisa kukatakan. Akupun menangis sesenggukan. Semua orang yang selamat juga terlihat mengucapkan syukurnya kepada Yang Maha Kuasa. Dari situ aku bisa melihat rumah-rumah yang ada di desa sudah tidak terlihat, hanya gentig-gentingnya saja yang masih bisa terlihat. Masya Allah itu seperti bukan desaku.
Disitu kami langsung mencari ayah berharap beliau juga selamat. Kami mencari-cari diantara para penduduk yang selamat, tapi wajah ayah belum juga tampak, aku makun pesimis, raut kekhawatiran juga terlihat di wajah ibu dan kakakku. Sampai beberapa jam kemudian tim SAR pun datang, mereka menari-cari ke desa yang sudah tak terlihat seperti desa lagi, kalau-kalau masih ada orang-orang yang yang selamat. Berjam-jam kami mencari ayah yang tak kunjung terlihat juga.
“bu, ebih baik kita juga mencari di seelah sana” kata kakak ku sambil nenunjuk ke arah koran yang tidak bisa selamat. Dengan wajah tegang, akhirnya kami mulai mencari wajah awah diantara orang-orang yang meninggal itu. Aku masih beharap semoga ayah tiada di antara merek. Tapi mungkin Allah nerkeinginan lain. Diantara korban-korban itu, kami dapat mengenali satu wajah yang sangat familiar bagi kami. Ayah. Bagai disambar petir, kami langsung berhamburan menuju jasad ayah yang sudah tak bernyawa. Tangis kami pun tak dapat terbendungkan lagi. Kami memanggil-manggil dan menggoyang-goyangkan badannya berharap ayah akan bangun. Aku tak menyangka senyum yang beliau sunggingkan sebelum pergi meninggalkan kami merupakan senyumannya yang terakhir...
Flasback end
Tak terasa air mata mengalir dipipku setiap aku ingat memiri itu. Ejak saat itu hidup kami sekeluarga telah berubah. Kami harus bisa menerima hidup tanpa disertai kehadiran ayah. Kehadirannya yang membuat keluarga lengkap, hangat, dan ceria. Mungkin dari balik kejadian itu terdapat hikmah tersendiri yang bisa Allah berikan pada kami. Mengingatkan agar oarang – orang selalu ingat kepada Allah, juga ingat jika manusia itu tidak akan kekal hidup didunia ini. Kupandangi lagi langit-langit kamark nan putih, suara hujan yang menderu-deru di atas genting juga pepohonan menjadi pengantar tidurku siang itu. 


*END*

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates